LAPORAN
PRAKTIKUM
BIOKIMIA
“Pengaruh Alkali dan Pembentukan Osazon”

Disusun oleh :
HENDRA
WAHYULIANTO RAHMAN C31120537
Dosen
Dr.
Ir. Rr. Merry Muspita DU,MP
JURUSAN
PETERNAKAN
PROGRAM
STUDI PRODUKSI TERNAK
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
TAHUN 2013
LANDASAN TEORI
Karbohidrat adalah poli hidroksi aldehid
dan poli hidroksi keton dan meliputi kondensat polimer – polimernya yang
terbentuk. Rumus empiris karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut :
Cm(H2O)n atau (CH2O). Tetapi ada juga karbohidrat yang mempunyai rumus empiris
tidak seperti rumus diatas, yaitu deoksiribosa, deoksiheksosa dan lain- lain
(Sudarmanto,dkk,2000).
Semua jenis karbohidrat terdiri atas
unsur-unsur karbon (C), hydrogen (H), dan Oksigen (O). Perbandingan antara
hydrogen dan oksigen pada umumnya adalah 2:1 seperti halnya dalam air; oleh
karena itu diberi nama karbohidrat. Dalam bentuk sederhana, formula umum
karbohidrat adalah CnH2nOn. Hanya heksosa (6-atom karbon), serta pentosa
(5-atom karbon), dan polimernya memegang perana penting dalam ilmu gizi
(Almatsier,2001).
Sifat-sifat
umum karbohidrat menurut Soeharsono (1978), adalah sebagai berikut
1)
Daya Mereduksi
Bilamana monosakarida seperti glukosa dan fruktosa ditambahkan ke dalam larutan luff maupun benedict maka akan timbul endapan warna merah bata. Sedangkan sakarosa tidak dapat menyebabkan perubahan warna. Perbedaan ini disebabkan pada monosakarida terdapat gugus karbonil yang reduktif, sedangkan pada sakarosa tidak. Gugus reduktif pada sakarosa terdapat pada atom C nomor 1 pada glukosa sedangkan pada fruktosa pada atom C nomor 2. Jika atom-atom tersebut saling mengikat maka daya reduksinya akan hilang, seperti apa yang terjadi pada sakarosa.
Larutan yang dipergunakan untuk menguji daya mereduksi suatu disakarida adalah larutan benedict. Unsur atau ion yang penting yang terdapat pada larutan tersebut adalah Cu2+ yang berwarna biru. Gula reduksi akan mengubah atau mereduksi ion Cu2+ menjadi Cu+ (Cu2O) yang mengendap dan berwarna merah bata. Zat pereduksi itu sendiri akan berubah menjadi asam.
Bilamana monosakarida seperti glukosa dan fruktosa ditambahkan ke dalam larutan luff maupun benedict maka akan timbul endapan warna merah bata. Sedangkan sakarosa tidak dapat menyebabkan perubahan warna. Perbedaan ini disebabkan pada monosakarida terdapat gugus karbonil yang reduktif, sedangkan pada sakarosa tidak. Gugus reduktif pada sakarosa terdapat pada atom C nomor 1 pada glukosa sedangkan pada fruktosa pada atom C nomor 2. Jika atom-atom tersebut saling mengikat maka daya reduksinya akan hilang, seperti apa yang terjadi pada sakarosa.
Larutan yang dipergunakan untuk menguji daya mereduksi suatu disakarida adalah larutan benedict. Unsur atau ion yang penting yang terdapat pada larutan tersebut adalah Cu2+ yang berwarna biru. Gula reduksi akan mengubah atau mereduksi ion Cu2+ menjadi Cu+ (Cu2O) yang mengendap dan berwarna merah bata. Zat pereduksi itu sendiri akan berubah menjadi asam.
2)
Pengaruh asam
Monosakarida stabil terhadap asam mineral encer dan panas. Asam yang pekat akan menyebabkan dehidrasi menjadi furfural, yaitu suatu turunan aldehid.
Monosakarida stabil terhadap asam mineral encer dan panas. Asam yang pekat akan menyebabkan dehidrasi menjadi furfural, yaitu suatu turunan aldehid.
3)
Pengaruh alkali
Larutan basa encer pada suhu kamar akan mengubah sakarida. Perubahan ini terjadi pada atom C anomerik dan atom C tetangganya tanpa mempengaruhi atom-atom C lainnya. Jika D-glukosa dituangi larutan basa encer maka sakarida itu akan berubah menjadi campuran: D-glukosa, D-manosa, D-fruktosa. Perubahan menjadi senyawaan tersebut melalui bentuk-bentuk enediolnya. Bilamana basa yang digunakan berkadar tinggi maka akan terjadi fragmentasi atau polimerisasi. Sehingga monosakarida akan mudah mengalami dekomposisi dan menghasilkan pencoklatan non-enzimatis bila dipanaskan dalam suasana basa. Tetapi pada disakarida dalam suasana sedikit basa akan lebih stabil terhadap reaksi hidrolisis(Soeharsono,1978).
Jenis-jenis hidrolisis ada tiga macam, yaitu :
§Hidrolisis Murni
Direaksikan dengan H2O saja, reaksi lambat sehingga jarang digunakan dalam industri (tidak komersial). Hanya untuk senyawa-senyawa yang reaktif. Reaksi dapat dipercepat dengan menggunakan H2O uap.
Larutan basa encer pada suhu kamar akan mengubah sakarida. Perubahan ini terjadi pada atom C anomerik dan atom C tetangganya tanpa mempengaruhi atom-atom C lainnya. Jika D-glukosa dituangi larutan basa encer maka sakarida itu akan berubah menjadi campuran: D-glukosa, D-manosa, D-fruktosa. Perubahan menjadi senyawaan tersebut melalui bentuk-bentuk enediolnya. Bilamana basa yang digunakan berkadar tinggi maka akan terjadi fragmentasi atau polimerisasi. Sehingga monosakarida akan mudah mengalami dekomposisi dan menghasilkan pencoklatan non-enzimatis bila dipanaskan dalam suasana basa. Tetapi pada disakarida dalam suasana sedikit basa akan lebih stabil terhadap reaksi hidrolisis(Soeharsono,1978).
Jenis-jenis hidrolisis ada tiga macam, yaitu :
§Hidrolisis Murni
Direaksikan dengan H2O saja, reaksi lambat sehingga jarang digunakan dalam industri (tidak komersial). Hanya untuk senyawa-senyawa yang reaktif. Reaksi dapat dipercepat dengan menggunakan H2O uap.
§Hidrolisis dalam Larutan Asam
Asam encer atau pekat misal HCl, H2SO4 dan lain-lain. Biasanya berfungsi sebagai katalisator. Pada asam encer, pada umumnya kecepatan reaksi sebanding dengan konsentrasi H+ menjadi [H+]. Sifat ini tidak berlaku pada asam pekat. Pemakaian H2SO4 lebih disukai karena HCl korosif.
§Hidrolisis dalam Larutan Basa
Basa encer atau pekat seperti NaOH, KOH. Penggunaan basa terbatas karena hasil akhir adalah garam bukan asam, sehingga tidak dapat terhidrolisis.
Menurut
kompleksitasnya karbohidrat digolongkan sebagai berikut ;
Monosakarida
Monosakarida adalah monomer gula atau gula yang tersusun dari satu molekul gula berdasarkan letak gugus karbonilnya monosakarida dibedakan menjadi : aldosa dan ketosa. Sedang kan menurut jumlah atomnya dibedakan menjadi :triosa , tetrosa, dll. Monosakarida yang mengandung gugus aldehid dan gugus keton dapat mereduksi senyawa-senyawa pengoksidasi seperti : ferrisianida, hidrogen peroksida dan ion cupro. Pada reaksi ini gula direduksi pada gugus karbonilnya oleh senyawa pengoksidasi reduksi. Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk mareduksi.Sifat mereduksi ini disebabkan adanya gugus hidroksi yang bebas dan reaktif(lehninger,1982).
Monosakarida adalah monomer gula atau gula yang tersusun dari satu molekul gula berdasarkan letak gugus karbonilnya monosakarida dibedakan menjadi : aldosa dan ketosa. Sedang kan menurut jumlah atomnya dibedakan menjadi :triosa , tetrosa, dll. Monosakarida yang mengandung gugus aldehid dan gugus keton dapat mereduksi senyawa-senyawa pengoksidasi seperti : ferrisianida, hidrogen peroksida dan ion cupro. Pada reaksi ini gula direduksi pada gugus karbonilnya oleh senyawa pengoksidasi reduksi. Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk mareduksi.Sifat mereduksi ini disebabkan adanya gugus hidroksi yang bebas dan reaktif(lehninger,1982).
Kerangka monosakarida adalah rantai karbon berikatan tunggal yang
tidak bercabang. Satu diantara atom karbon berikatan ganda terhadap suatu atom
oksigen, membentuk gugus karbonil; masing–masing atom karbon lainnya berikatan
dengan gugus hidroksil. Jika gugus karbonil berada pada ujung rantai karbon,
monosakarida tersebut adalah suatu aldehida dan disebut suatu aldosa; jika
gugus karbonil berada pada posisi lain, monosakarida tersebut adalah suatu
keton dan disebut suatu ketosa (Lehninger,1982).
Sedangkan gula non reduksi adalah senyawa gula yang gugus karbonilna
berikatan dengan senyawa monosakarida lain sehingga tidak bebas lagi, Misalnya
: sukrosa (lehninger, 1982). Sedangkan jumlah keseluruhan gula reduksi dan gula
non reduksi adalah gula total.
Pada keadaan asam encer, monosakarida bersifat relatif stabil dan
pada penambahan asam kuat akan terhidrasi menjadi furfural atau
hidroksimetilfurfural. Pada penambahan alkali encer monosakarida dapat
mengalami isomerasi atau terbentuk senyawa yang lebih pendek D-manosa dan
D-1-fruktosa. Sedang pada penambahan alkali kuat enediol dapat berubah menjadi
formaldehid atau pentosa (Winarno, 1992)
Beberapa monosakarida penting ;
1.
Glukosa
Glukosa disebut juga gula anggur karena terdapat dalam buah anggur, gula darah karena terdapat dalam darah atau dekstrosa karena memutarkan bidang polarisasi kekanan. Glukosa merupakan monomer dari polisakarida terpenting yaitu amilum, selulosa dan glikogen. Glukosa merupakan senyawa organik terbanyak. terdapat pada hidrolisis amilum, sukrosa, maltosa, dan laktosa.
2. Fruktosa
Fruktosa terdapat dalam buah2an, merupakan gula yang paling manis. Bersama2 dengan glukosa merupakan komponen utama dari madu. Larutannya merupakan pemutar kiri sehingga fruktosa disebut juga levulosa.
Ribosa dan 2-deoksiribosa
Ribosa da 2-deoksiribosa adalah gula pentosa yg membentuk RNA dan DNA.
Glukosa disebut juga gula anggur karena terdapat dalam buah anggur, gula darah karena terdapat dalam darah atau dekstrosa karena memutarkan bidang polarisasi kekanan. Glukosa merupakan monomer dari polisakarida terpenting yaitu amilum, selulosa dan glikogen. Glukosa merupakan senyawa organik terbanyak. terdapat pada hidrolisis amilum, sukrosa, maltosa, dan laktosa.
2. Fruktosa
Fruktosa terdapat dalam buah2an, merupakan gula yang paling manis. Bersama2 dengan glukosa merupakan komponen utama dari madu. Larutannya merupakan pemutar kiri sehingga fruktosa disebut juga levulosa.
Ribosa dan 2-deoksiribosa
Ribosa da 2-deoksiribosa adalah gula pentosa yg membentuk RNA dan DNA.
Disakarida
Tersusun oleh dua molekul monosakarida. Jika jumlahnya lebih dari dua disebut oligosakarida ( terdiri dari 2-10 monomer gula ). Ikatan antara dua molekul monosakarida disebut ikatan glikosidik yang terbentuk dari gugus hidroksil dari atom C nomer 1 yang juga disebut karbon nomerik dengan gugus hidroksil pada molekul gula yang lain. Ada tidaknya molekul gula yang bersifat reduktif tergantung dari ada tidaknya gugus hidroksil bebas yang reaktif yang terletak pada atom C nomer 1 sedangkan pada fruktosa teeletak pada atom C nomer 2. Sukrosa tidak mempunyai gugus hidroksil yang reaktif karena kedua gugus reaktifnya sudah saling berikatan. Pada laktosa karena mempunyai gugus hidroksil bebas pada molekul glukosanya maka laktosa bersifat reduktif (Winarno, 1992).
Tersusun oleh dua molekul monosakarida. Jika jumlahnya lebih dari dua disebut oligosakarida ( terdiri dari 2-10 monomer gula ). Ikatan antara dua molekul monosakarida disebut ikatan glikosidik yang terbentuk dari gugus hidroksil dari atom C nomer 1 yang juga disebut karbon nomerik dengan gugus hidroksil pada molekul gula yang lain. Ada tidaknya molekul gula yang bersifat reduktif tergantung dari ada tidaknya gugus hidroksil bebas yang reaktif yang terletak pada atom C nomer 1 sedangkan pada fruktosa teeletak pada atom C nomer 2. Sukrosa tidak mempunyai gugus hidroksil yang reaktif karena kedua gugus reaktifnya sudah saling berikatan. Pada laktosa karena mempunyai gugus hidroksil bebas pada molekul glukosanya maka laktosa bersifat reduktif (Winarno, 1992).
Polisakarida
Polisakarida adalah polimer yang tersusun oleh lebih dari lima belas monomer gula. Dibedakan menjadi dua yaitu homopolisakarida dan heteropolisakarida. Monosakarida dan disakarida mempunyai rasa manis , sehingga disebut dengan “gula”. (Sudarmadji,1996)
Polisakarida adalah polimer yang tersusun oleh lebih dari lima belas monomer gula. Dibedakan menjadi dua yaitu homopolisakarida dan heteropolisakarida. Monosakarida dan disakarida mempunyai rasa manis , sehingga disebut dengan “gula”. (Sudarmadji,1996)
HASIL PENGAMATAN
1. Pengaruh
Alkali Dengan Uji Benedict
Pada pengujian ini dilakukan pada 1
tabung yang berisi 2ml larutan Glukosa 0,01M dan sedikit Na2CO3. Kemudian di
bagi menjadi 2 botol sama banyak.
|
No
|
Larutan Pengisi
|
Warna Awal
|
Hasil Pengamatan
|
|
|
pemanaskan selama 30’
|
Setelah dipanaskan 30’ + larutan benedict,
dipanaskan 10’
|
|||
|
2.
|
1ml glukosa 0,01M + sedikit Na2CO3
|
Putih keruh
|
- 2 menit berwarna kuning
- 4 menit berwarna orange kecoklatan
- 8 menit berwarna orange kecoklatan
pekat
- 23 menit berwarna merah bata
- 27 menit berwarna merah bata pekat
|
- warna awal merah bata pekat dan
kehijauan
- 4 menit berwarna merah beta dan
coklat
- 7 menit merah bata
- 9 menit coklat pekat dan merah bata
|
|
3.
|
1ml glukosa 0,01M + sedikit Na2CO3
|
Putih keruh ada endapan
|
_
|
- warna awal putih keruh dan biru ada
endapan putih
- 4 menit coklat pekat ada endapan
putih
- 7 menit coklat pekat merah bata da
nada endapan
- 9 menit terdapat 3 lapisan yaitu
coklat, merah coklat, dan ada endapan putih
|
2. Pengaruh
Alkali Dan Pembentukan Osazon
|
No.
|
Larutan gula (5ml)
|
Larutan asam asetat
|
Larutan fenil hidrasil
|
Hasil pengamatan
|
|
|
Sebelum
|
Sesudah
|
||||
|
1.
|
Glukosa 0,01M
|
CH3COOH 10 tetes
|
3 tetes
|
Warna larutan kuning muda setelah
dipanaskan 10’
|
- Terbentuk endapan berwarna coklat
tua (coklat kemerahan)
- Gambar kristal
|
|
2.
|
Fruktosa 0,01M
|
CH3COOH 10 tetes
|
3 tetes
|
Warna larutan kuning muda setelah dilarutkan
10’
|
- Terbentuk endapan berwarna kuning
telur (orange)
- Gambar Kristal
|
|
3.
|
Arabinose 0,01M
|
CH3COOH 10 tetes
|
3 tetes
|
Warna larutan kuning muda setelah
dilarutkan 10’
|
- Terbentuk endapan berwarna coklat
tua (coklat kemerahan)
- Gambar kristal
|
PEMBAHASAN
Pada percoobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh asam dan alkali terhadap glukosa, sukrosa dan maltodekstrin. Percobaan
dilakukan dengan prinsip penambahan tiga larutan yang memiliki tingkat keasaman
yang berbeda (asam, basa, dan netral). Suasana asam diwakilkan dengan
penambahan HCl 0,1 N, suasana basa diwakilkan dengan penambahan NaOH 0,1 N, dan
suasana netral diwakilkan dengan penambahan aquadest. Selain itu, juga
dilakukan pemanasan dua tahap dan uji benedict. Uji benedict ini dilakukan
untuk mengetahui ada tidaknya gugus reduksi pada glukosa,sukrosa dan
maltodekstrin. Gugus reduksi ini mempunyai daya untuk mereduksi. Kemampuan ini
disebabkan karena kandungan gugus reduktif yang mempunyai batasan yaitu gugus -OH
bebas yang terikat pada atom C hemiasetal. Menurut Sudarmadji (2003), Gula
reduksi dengan larutan Benedict (campuran garam kuprisulfat, Natrium sitrat,
Natrium karbonat) akan terjadi reaksi reduksi-oksidasi dan dihasilkan endapan
berwarna merah bata dari kuprooksida. Jadi kriteria untuk reaksi positif adalah
terbentuknya endapan kuprooksida dengan warna merah bata.
Menurut Soeharsono (1978), larutan basa
encer pada suhu kamar akan mengubah sakarida. Perubahan ini terjadi pada atom C
anomerik dan atom C tetangganya tanpa mempengaruhi atom-atom C lainnya. Jika
D-glukosa dituangi larutan basa encer maka sakarida itu akan berubah menjadi
campuran: D-glukosa, D-manosa, D-fruktosa. Perubahan menjadi senyawaan tersebut
melalui bentuk-bentuk enediolnya. Bilamana basa yang digunakan berkadar tinggi
maka akan terjadi fragmentasi atau polimerisasi sehingga monosakarida akan
mudah mengalami dekomposisi dan menghasilkan pencoklatan non-enzimatis
(karamelisasi) bila dipanaskan dalam suasana basa (Soeharsono, 1978).
Hal tersebut
sesuai dengan apa yang diungkapkan Sudarmanto (2000), yaitu bahwa pada pH
diatas 4, dalam suasana alkali, glukosa siklik akan berubah kebentuk cincin
terbuka yang mengandung gugus karbonil dan selanjutnya akan mengalami
keseimbangan antara bentuk keto dan enolnya, yang disebut enolisasi. Enolasi
pada glukosa menyebabkan terbentuknya keseimbangan antara campuran glukosa,
fruktosa, dan manosa dengan enediol sebagai senyawa antara. Warna kuning
kecoklatan yang terjadi merupakan akibat dari terbentuknya keempat senyawa
diatas (Sudarmanto, 2000).
Pada tabung yang ditambahkan dengan HCl 0,1 N tidak terjadi perubahan warna karena glukosa stabil pada kondisi asam. HCl tidak mampu menghidrolisis glukosa.
Pada pH 3-4 kebanyakan gula reduksi stabil(Fenema,1976).
Pada tabung yang ditambahkan dengan HCl 0,1 N tidak terjadi perubahan warna karena glukosa stabil pada kondisi asam. HCl tidak mampu menghidrolisis glukosa.
Pada pH 3-4 kebanyakan gula reduksi stabil(Fenema,1976).
Begitu juga
dengan tabung yang di tambahkan akuadest, tidak terjadi perubahan warna.
Sebelum pemanasan, larutan berwarna putih bening dan setelah pemanasan berwarna
putih bening. Aquadest bersifat netral sehingga tidak dapat menghidrolisa
glukosa walaupun disertai pemanasan. Aquadest hanya berfungsi sebagai pelarut.
Sedangkan pada sukrosa dan maltodekstrin tadak terjadinya perubahan warna. Tidak adanya perubahan warna menunjukkan bahwa penambahan alkali dan asam belum mampu menghidrolisis sukrosa dan maltosa. Pemanasan 1 hanya berfungsi sebagai peregang ikatan antar monosakarida-monosakarida pada sukrosa dan maltosa namun belum bisa menghidrolisa sempurna sukrosa dan maltosa.
Perlakuan selanjutnya adalah menambahkan NaHCO3 kristal pada tabung reaksi kedua. Penambahan ini bertujuan untuk memberikan suasana sedikit basa. Pada suasana yang sedikit basa, benedict mampu bekerja secara maksimal. Benedict tidak dapat bekerja dengan baik pada kondisi asam. Tujuan penambahan benedict adalah untuk mengetahui ada tidakny agugus reduksi pada sukrosa dan maltosa sehingga dapat diketahui apakah terjadi hidrolisis atau tidak dengan penambahan larutan yang berbeda tingkat keasamannya.
Setelah ditambahkan NaHCO3 kristal, masing-masing tabung (kecuali tabung 4) diambil 2 ml. kemudian tambahkan benedict sebanyak 3 ml. Penambahan benedict mengakibatkan seluruh tabung reaksi kecuali tabung glukosa+ NaOH berwarna biru.
Langkah selanjutnya seluruh tabung yang sudah ditambahkan dengan larutan benedict dipanaskan. Pada tiga tabung glukosa, ketiganya mengalami perubahan warna dan terdapat sedikit endapan dengan jumlah yang berbeda dan terdapat perubahan warna. Adanya endapan pada ketiga tabung glukosa menunjukkan terjadinya hidrolisis. Glukosa termasuk dalam golongan monosakarida dan tergolong dalam karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid. Semua monosakarida, baik aldosa maupun ketosa adalah gula pereduksi, dimana gula pereduksi memberikan uji positif dengan pereaksi benedict.
Hal yang sama ditunjukkan oleh 2 tabung sukrosa yang tambahkan larutan (HCl, akuadest), pada 2 tabung sukrosa juga terdapat sedikit endapan dan perubahan warna. Namun endapan yang terdapat pada sukrosa yang ditetesi HCl lebih banyak daripada sukrosa yang ditetesi NaOH karena dalam larutan yang mengandung asam, sukrosa mengalami hidrolisis menghasilkan D – Glukosa dan D – Fruktosa. Asam encer atau HCl berfungsi sebagai katalisator. Meskipun pada sukrosa yang ditetesi dengan NaOH terdapat endapannya, namun hal ini masih dapat dianggap relatif stabil apabila dibandingkan dengan endapan yang terdapat pada larutan sukrosa dan HCl yang memang sangat jelas terlihat dan dalam jumlah yang banyak.
Hidrolisis merupakan suatu proses kimia yang menggunakan H2O sebagai pemecah suatu persenyawaan termasuk inversi gula, H2O sebagai zat pereaksi dalam pengertian luas termasuk larutan asam dan basa (dalam senyawa organik, hidrólisis, netralisasi). Hidrolisis pada karbohidrat jenis disakarida akan terjadi lebih cepat apabila dalam kondisi pemanasan dan dalam suasana asam. Data diatas menunjukkan sukrosa yang ditambahkan dengan HCl menunjukkan adanya reaksi positif dan ada endapan yang berarti mengalami hidrolisis. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa larutan HCl yang merupakan asam, mempercepat reaksi hidrolisis ditambah dengan adanya pemanasan.
Namun pada tabung sukrosa yang di tambahkan NaOH tidak mengalami perubahan warna (tetap biru). Sukrosa dalam suasana alkali bersifat stabil, tidak terhidrolisa. Jika sukrosa berada dalam keadaan alkalis, maka sukrosa akan memberikan hasil yang negatif pada uji Benedict. Larutan alkalis tidak mampu menghidrolisis ikatan glikosidik dalam sakarosa sehingga sakarosa tetap memiliki sifat non-reduksi. Dalam hal ini, larutan Benedict yang ditambahkan tidak tereduksi dan warna larutannya tetap, meskipun sudah dipanaskan(Soeharsono,1978).
Begitu juga pada tabung maltodekstrin, pada ketiga tabung terdapat sedikit endapan dan perubahan warna yang berbeda – beda. Adanya endapan karena masih terdapatnya garam-garam yang tidak larut yang berasal dari larutan benedict. Perbedaan intensitas warna pada seluruh tabung disebabkan karena larutan benedict dapat bekerja paling efektif pada suasana sedikit basa, sedangkan pada suasana alkali kurang efektif begitu juga pada suasana netral sehingga warna pada tabung yang di tambahkan NaOH dan akuadest kurang pekat.
Sedangkan pada sukrosa dan maltodekstrin tadak terjadinya perubahan warna. Tidak adanya perubahan warna menunjukkan bahwa penambahan alkali dan asam belum mampu menghidrolisis sukrosa dan maltosa. Pemanasan 1 hanya berfungsi sebagai peregang ikatan antar monosakarida-monosakarida pada sukrosa dan maltosa namun belum bisa menghidrolisa sempurna sukrosa dan maltosa.
Perlakuan selanjutnya adalah menambahkan NaHCO3 kristal pada tabung reaksi kedua. Penambahan ini bertujuan untuk memberikan suasana sedikit basa. Pada suasana yang sedikit basa, benedict mampu bekerja secara maksimal. Benedict tidak dapat bekerja dengan baik pada kondisi asam. Tujuan penambahan benedict adalah untuk mengetahui ada tidakny agugus reduksi pada sukrosa dan maltosa sehingga dapat diketahui apakah terjadi hidrolisis atau tidak dengan penambahan larutan yang berbeda tingkat keasamannya.
Setelah ditambahkan NaHCO3 kristal, masing-masing tabung (kecuali tabung 4) diambil 2 ml. kemudian tambahkan benedict sebanyak 3 ml. Penambahan benedict mengakibatkan seluruh tabung reaksi kecuali tabung glukosa+ NaOH berwarna biru.
Langkah selanjutnya seluruh tabung yang sudah ditambahkan dengan larutan benedict dipanaskan. Pada tiga tabung glukosa, ketiganya mengalami perubahan warna dan terdapat sedikit endapan dengan jumlah yang berbeda dan terdapat perubahan warna. Adanya endapan pada ketiga tabung glukosa menunjukkan terjadinya hidrolisis. Glukosa termasuk dalam golongan monosakarida dan tergolong dalam karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid. Semua monosakarida, baik aldosa maupun ketosa adalah gula pereduksi, dimana gula pereduksi memberikan uji positif dengan pereaksi benedict.
Hal yang sama ditunjukkan oleh 2 tabung sukrosa yang tambahkan larutan (HCl, akuadest), pada 2 tabung sukrosa juga terdapat sedikit endapan dan perubahan warna. Namun endapan yang terdapat pada sukrosa yang ditetesi HCl lebih banyak daripada sukrosa yang ditetesi NaOH karena dalam larutan yang mengandung asam, sukrosa mengalami hidrolisis menghasilkan D – Glukosa dan D – Fruktosa. Asam encer atau HCl berfungsi sebagai katalisator. Meskipun pada sukrosa yang ditetesi dengan NaOH terdapat endapannya, namun hal ini masih dapat dianggap relatif stabil apabila dibandingkan dengan endapan yang terdapat pada larutan sukrosa dan HCl yang memang sangat jelas terlihat dan dalam jumlah yang banyak.
Hidrolisis merupakan suatu proses kimia yang menggunakan H2O sebagai pemecah suatu persenyawaan termasuk inversi gula, H2O sebagai zat pereaksi dalam pengertian luas termasuk larutan asam dan basa (dalam senyawa organik, hidrólisis, netralisasi). Hidrolisis pada karbohidrat jenis disakarida akan terjadi lebih cepat apabila dalam kondisi pemanasan dan dalam suasana asam. Data diatas menunjukkan sukrosa yang ditambahkan dengan HCl menunjukkan adanya reaksi positif dan ada endapan yang berarti mengalami hidrolisis. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa larutan HCl yang merupakan asam, mempercepat reaksi hidrolisis ditambah dengan adanya pemanasan.
Namun pada tabung sukrosa yang di tambahkan NaOH tidak mengalami perubahan warna (tetap biru). Sukrosa dalam suasana alkali bersifat stabil, tidak terhidrolisa. Jika sukrosa berada dalam keadaan alkalis, maka sukrosa akan memberikan hasil yang negatif pada uji Benedict. Larutan alkalis tidak mampu menghidrolisis ikatan glikosidik dalam sakarosa sehingga sakarosa tetap memiliki sifat non-reduksi. Dalam hal ini, larutan Benedict yang ditambahkan tidak tereduksi dan warna larutannya tetap, meskipun sudah dipanaskan(Soeharsono,1978).
Begitu juga pada tabung maltodekstrin, pada ketiga tabung terdapat sedikit endapan dan perubahan warna yang berbeda – beda. Adanya endapan karena masih terdapatnya garam-garam yang tidak larut yang berasal dari larutan benedict. Perbedaan intensitas warna pada seluruh tabung disebabkan karena larutan benedict dapat bekerja paling efektif pada suasana sedikit basa, sedangkan pada suasana alkali kurang efektif begitu juga pada suasana netral sehingga warna pada tabung yang di tambahkan NaOH dan akuadest kurang pekat.
KESIMPULAN
1) Glukosa
tidak stabil pada kondisi basa dan stabil pada kondisi asam dan netral.
2) Sukrosa
relative stabil terhadap alkali sedangkan pada koondisi asam akan mengalami
hidrolisis.
3) Maltosa
tidak stabil pada koondisi asam, basa, dan netral sehingga mudah terhidrolisis
4) Asam
akan mempercepat hidrolisis maltodekstrin menjadi gula-gula reduksi yang
ditunjukkan dengan terbentuknya endapan merah bata yang paling banyak pada uji
Benedict, namun sebaliknya dalam suasana alkali hidrolisis maltodekstrin
menjadi terhambat.
PERTANYAAN
1.
Gambarkan struktur molekul fruktosa, glukosa dan maltosa!
2. Terangkan bagaimana pembentukan osazon pada monosakarida.
2. Terangkan bagaimana pembentukan osazon pada monosakarida.
Jawaban
1.
.






maltosa
2.
Uji
osazon merupakan pengamatan dengan mikroskop endapan karbohidrat yang terbentuk
sesudah ditambahkan dengan fenil hidrazin.Monosakarida menunjukkan hasil yang positif pada percobaan
ditunjukkan terbentuknya kristal pada endapan karbohidrat yang diamati dengan
mikroskop. Pada uji Osazon, yang mendasarinya adalah pemanasan karbohidrat yang
memiliki gugus aldehida atao keton bersama fenilhidrazin berlebihan akan
membentuk hidrazon atau osazon. Osazon yang terbentuk mempunyai bentuk kristal
dan titik lebur yang spesifik. osazon monosakarida tidak larut dalam air
mendidih. Monosakarida atau gula sederhana adalah karbohidrat yang tidak dapat
dihihrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar