Jumat, 28 Juni 2013

Uji Amilase dan SAliva Praktikum Biokimia



LAPORAN PRAKTIKUM
Uji Amilase Saliva dan Amilase

TUGAS MATA KULIAH BIOKIMIA

                                   
Disusun oleh :

HENDRA WAHYULIANTO RAHMAN
C31120537
Golongan A


Dosen
Dr. Ir. Rr. Merry Muspita DU,MP
Nurkholis. S.Pt, MP



JURUSAN PETERNAKAN
          PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2013

BAB I
PENDAHULUAN
               
Pada tahun 1897, Eduard Buchner memulai kajiannya mengenai kemampuan ekstrak ragi untuk memfermentasi gula walaupun ia tidak terdapat pada sel ragi yang hidup. Pada sederet eksperimen di Universitas Berlin, ia menemukan bahwa gula difermentasi bahkan apabila sel ragi tidak terdapat pada campuran.Ia menamai enzim yang memfermentasi sukrosa sebagai "zymase" (zimase).
Pada tahun 1907, ia menerima penghargaan Nobel dalam bidang kimia "atas riset biokimia dan penemuan fermentasi tanpa sel yang dilakukannya". Mengikuti praktek Buchner, enzim biasanya dinamai sesuai dengan reaksi yang dikatalisasi oleh enzim tersebut. Umumnya, untuk mendapatkan nama sebuah enzim, akhiran -ase ditambahkan pada nama substrat enzim tersebut (contohnya: laktase, merupakan enzim yang mengurai laktosa) ataupun pada jenis reaksi yang dikatalisasi (contoh: DNA polimerase yang menghasilkan polimer DNA).
Penemuan bahwa enzim dapat bekerja diluar sel hidup mendorong penelitian pada sifat-sifat biokimia enzim tersebut. Banyak peneliti awal menemukan bahwa aktivitas enzim diasosiasikan dengan protein, namun beberapa ilmuwan seperti Richard Willstätter berargumen bahwa proten hanyalah bertindak sebagai pembawa enzim dan protein sendiri tidak dapat melakukan katalisis. Namun,
Pada tahun 1926, James B. Sumner berhasil mengkristalisasi enzim urease dan menunjukkan bahwa ia merupakan protein murni. Kesimpulannya adalah bahwa protein murni dapat berupa enzim dan hal ini secara tuntas dibuktikan oleh Northrop dan Stanley yang meneliti enzim pencernaan pepsin (1930), tripsin, dan kimotripsin.



BAB II
LANDASAN TEORI



§  AMILASE
Amilase / æmɪleɪz / adalah enzim yang mengkatalisis pemecahan pati menjadi gula. Amilase hadir dalam air liur manusia, di mana ia memulai proses kimia pencernaan. Makanan yang mengandung banyak pati tetapi sedikit gula, seperti beras dan kentang, rasa sedikit manis karena mereka dikunyah karena amilase ternyata sebagian pati mereka menjadi gula di dalam mulut. Pankreas juga membuat amilase (alpha amilase) untuk menghidrolisis pati makanan menjadi disakarida dan trisaccharides yang diubah oleh enzim lain untuk glukosa untuk memasok tubuh dengan energi.
§  SALIVA
Air liur adalah zat berair yang terletak di mulut organisme, disekresikan oleh kelenjar ludah. Saliva manusia adalah air 99,5%, sementara yang lain 0,5% terdiri dari elektrolit, lendir, glikoprotein, enzim, dan senyawa antibakteri seperti IgA sekretori dan lysozyme. Enzim yang ditemukan dalam air liur sangat penting dalam memulai proses pencernaan makanan pati dan lemak. Enzim ini juga berperan dalam mogok partikel makanan terjebak dalam celah-celah gigi, melindungi gigi dari pembusukan bakteri. Selain itu, air liur melayani fungsi licin, pembasahan makanan dan memungkinkan inisiasi menelan, dan melindungi permukaan mukosa mulut rongga dari pengeringan.




BAB III
TABEL PENGAMATAN

Hasil PengamatanEnzim Amilase Saliva
Tabung Reaksi
Larutan
Sebelum di Inkubasi

Setelah  di Inkubasi+ 3 tetes Yodium
80°C
4°C
37°C
1
HCl 1 M 1 ml + 1 ml Saliva + 3 ml Amilum
Warna awal putih keruh


setelah di kocok warnanya lebih keruh Setelah di tetesi yodium warnanya berubah menjadi hitam keunguan

2
NaOH 1 ml + 1 ml Saliva + 3 ml Amilum
Warna awal putih keruh


setelah di kocok warnanya lebih keruh Setelah ditetesi yodium warnanya berubah menjadi ungu

3
1 ml Saliva + 3 ml Amilum
Warna awal putih keruh
setelah di kocok warnanya lebih keruh Setelah ditetesi yodium warnanya tidak berubah



4
1 ml Saliva + 3 ml Amilum
Warna awal putih keruh

setelah di kocok warnanya lebih keruh Setelah ditetesi yodium warnanya tidak berubah


5
1 ml Saliva + 3 ml Amilum
Warna awal putih keruh


setelah di kocok warnanya lebih keruh Setelah ditetesi yodium warnanya putih keruh agak keunguan


Hasil Pengamatan Enzim Amilase

No
 Perlakuan
Hasil Pengamatan

T - 1

Singkong rebus + ragi + Iodium.

Hari pertama (20 Mei 2013)
Selama 3 hari Setelah diperam selama 2 hari dan ditetesi iodium berubah warna menjadi coklat kehitaman karena enzim bekerja dan daya serap iodium rendah.

T - 2

Singkong rebus + ragi + Iodium

Hari kedua (21 Mei 2013)
Selama 2 hari Warna menjadi lebih pekat dari data I. karena enzim bekerja dan daya serapnya setangah.

T –3

Singkong rebus + Iodium

Hari ketiga(22 Mei 2013)
Selama 1 hari Setelah di tetesi iodium warna menjadi biru kehitaman sangat pekat. Krena daya kerja dari enzim tersebut sangat tinggi.



BAB IV
PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan Enzim Amilase Saliva
• Tabung 1
Larutan amilum + saliva + HCl yang diinkubasi dalam suhu 37°C yang kemudian ditetesi larutan iodium terjadi reaksi yaitu berubah menjadi ungu pekat
• Tabung 2
Larutan amilum + saliva + NaOH yang diinkubasi dalam suhu 37°C kemudian ditetesi larutan iodium berubah keunguan.
• Tabung 3, 4, dan 5
Larutan amilum + saliva yang berubah hanya pada tabung 5, karena proses inkubasi yang pas yaitu pada suhu 37°C.
Hasil Pengamatan Enzim Amilase
• Cawan T-1
Singkong yang direbus dan di beri ragi, setelah di peram 2 hari dan di tetesi iodium warna yang terjadi yaitu coklat pekat,
• Cawan T-2
Iodium dapat larut, tetapi tidak sempurna.
• Cawan T-3
Iodium tidak dapat larut,




BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa:
Dalam uji enzim amilase yang dilakukan pada singkong rebus. Iodium bekerja dengan baik pada suatu benda yang sudah difermatasikan dan iodium juga dapat meresap. Iodium tidak dapat bekerja pada suatu benda yang belum difermentasikan dan tidak meresap.
Semakin lama fermentasi benda tersebut, maka larutan iodium tersebut akan bekerja dengan sempurna.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar