LAPORAN
PRAKTIKUM
“Uji Amilase Saliva dan
Amilase”
TUGAS MATA KULIAH BIOKIMIA
Disusun
oleh
:
HENDRA WAHYULIANTO RAHMAN
C31120537
Golongan A
Dosen
Dr.
Ir. Rr. Merry Muspita DU,MP
Nurkholis. S.Pt, MP
JURUSAN
PETERNAKAN
PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK
POLITEKNIK
NEGERI JEMBER
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Pada
tahun 1897, Eduard Buchner memulai kajiannya mengenai kemampuan ekstrak ragi
untuk memfermentasi gula walaupun ia tidak terdapat pada sel ragi yang hidup.
Pada sederet eksperimen di Universitas Berlin, ia menemukan bahwa gula
difermentasi bahkan apabila sel ragi tidak terdapat pada campuran.Ia menamai
enzim yang memfermentasi sukrosa sebagai "zymase" (zimase).
Pada
tahun 1907, ia menerima penghargaan Nobel dalam bidang kimia "atas riset
biokimia dan penemuan fermentasi tanpa sel yang dilakukannya". Mengikuti
praktek Buchner, enzim biasanya dinamai sesuai dengan reaksi yang dikatalisasi
oleh enzim tersebut. Umumnya, untuk mendapatkan nama sebuah enzim, akhiran -ase
ditambahkan pada nama substrat enzim tersebut (contohnya: laktase, merupakan
enzim yang mengurai laktosa) ataupun pada jenis reaksi yang dikatalisasi
(contoh: DNA polimerase yang menghasilkan polimer DNA).
Penemuan bahwa enzim dapat bekerja diluar sel hidup mendorong penelitian pada sifat-sifat biokimia enzim tersebut. Banyak peneliti awal menemukan bahwa aktivitas enzim diasosiasikan dengan protein, namun beberapa ilmuwan seperti Richard Willstätter berargumen bahwa proten hanyalah bertindak sebagai pembawa enzim dan protein sendiri tidak dapat melakukan katalisis. Namun,
Penemuan bahwa enzim dapat bekerja diluar sel hidup mendorong penelitian pada sifat-sifat biokimia enzim tersebut. Banyak peneliti awal menemukan bahwa aktivitas enzim diasosiasikan dengan protein, namun beberapa ilmuwan seperti Richard Willstätter berargumen bahwa proten hanyalah bertindak sebagai pembawa enzim dan protein sendiri tidak dapat melakukan katalisis. Namun,
Pada
tahun 1926, James B. Sumner berhasil mengkristalisasi enzim urease dan
menunjukkan bahwa ia merupakan protein murni. Kesimpulannya adalah bahwa
protein murni dapat berupa enzim dan hal ini secara tuntas dibuktikan oleh
Northrop dan Stanley yang meneliti enzim pencernaan pepsin (1930), tripsin, dan
kimotripsin.
BAB II
LANDASAN TEORI
LANDASAN TEORI
§
AMILASE
Amilase
/ æmɪleɪz / adalah enzim yang mengkatalisis pemecahan pati menjadi gula.
Amilase hadir dalam air liur manusia, di mana ia memulai proses kimia
pencernaan. Makanan yang mengandung banyak pati tetapi sedikit gula, seperti
beras dan kentang, rasa sedikit manis karena mereka dikunyah karena amilase
ternyata sebagian pati mereka menjadi gula di dalam mulut. Pankreas juga
membuat amilase (alpha amilase) untuk menghidrolisis pati makanan menjadi
disakarida dan trisaccharides yang diubah oleh enzim lain untuk glukosa untuk
memasok tubuh dengan energi.
§
SALIVA
Air
liur adalah zat berair yang terletak di mulut organisme, disekresikan oleh
kelenjar ludah. Saliva manusia adalah air 99,5%, sementara yang lain 0,5%
terdiri dari elektrolit, lendir, glikoprotein, enzim, dan senyawa antibakteri
seperti IgA sekretori dan lysozyme. Enzim yang ditemukan dalam air liur sangat
penting dalam memulai proses pencernaan makanan pati dan lemak. Enzim ini juga
berperan dalam mogok partikel makanan terjebak dalam celah-celah gigi,
melindungi gigi dari pembusukan bakteri. Selain itu, air liur melayani fungsi
licin, pembasahan makanan dan memungkinkan inisiasi menelan, dan melindungi
permukaan mukosa mulut rongga dari pengeringan.
BAB
III
TABEL PENGAMATAN
TABEL PENGAMATAN
Hasil PengamatanEnzim Amilase Saliva
|
Tabung Reaksi
|
Larutan
|
Sebelum di Inkubasi
|
Setelah di Inkubasi+ 3 tetes Yodium
|
||
|
80°C
|
4°C
|
37°C
|
|||
|
1
|
HCl
1 M 1 ml + 1 ml Saliva + 3 ml Amilum
|
Warna
awal putih keruh
|
|
|
setelah
di kocok warnanya lebih keruh Setelah di tetesi yodium warnanya berubah
menjadi hitam keunguan
|
|
2
|
NaOH
1 ml + 1 ml Saliva + 3 ml Amilum
|
Warna
awal putih keruh
|
|
|
setelah
di kocok warnanya lebih keruh Setelah ditetesi yodium warnanya berubah
menjadi ungu
|
|
3
|
1
ml Saliva + 3 ml Amilum
|
Warna
awal putih keruh
|
setelah
di kocok warnanya lebih keruh Setelah ditetesi yodium warnanya tidak berubah
|
|
|
|
4
|
1
ml Saliva + 3 ml Amilum
|
Warna
awal putih keruh
|
|
setelah
di kocok warnanya lebih keruh Setelah ditetesi yodium warnanya tidak berubah
|
|
|
5
|
1
ml Saliva + 3 ml Amilum
|
Warna
awal putih keruh
|
|
|
setelah
di kocok warnanya lebih keruh Setelah ditetesi yodium warnanya putih keruh
agak keunguan
|
Hasil Pengamatan Enzim Amilase
|
No
|
Perlakuan
|
Hasil Pengamatan
|
|
T
- 1
|
Singkong
rebus + ragi + Iodium.
|
Hari
pertama (20 Mei 2013)
Selama 3 hari Setelah diperam selama 2 hari dan ditetesi iodium berubah warna menjadi coklat kehitaman karena enzim bekerja dan daya serap iodium rendah. |
|
T
- 2
|
Singkong
rebus + ragi + Iodium
|
Hari
kedua (21 Mei 2013)
Selama 2 hari Warna menjadi lebih pekat dari data I. karena enzim bekerja dan daya serapnya setangah. |
|
T
–3
|
Singkong
rebus + Iodium
|
Hari
ketiga(22 Mei 2013)
Selama 1 hari Setelah di tetesi iodium warna menjadi biru kehitaman sangat pekat. Krena daya kerja dari enzim tersebut sangat tinggi. |
BAB IV
PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan Enzim Amilase Saliva
• Tabung 1
Larutan amilum + saliva + HCl yang diinkubasi dalam suhu 37°C yang kemudian ditetesi larutan iodium terjadi reaksi yaitu berubah menjadi ungu pekat
• Tabung 2
Larutan amilum + saliva + NaOH yang diinkubasi dalam suhu 37°C kemudian ditetesi larutan iodium berubah keunguan.
Larutan amilum + saliva + NaOH yang diinkubasi dalam suhu 37°C kemudian ditetesi larutan iodium berubah keunguan.
• Tabung 3, 4, dan 5
Larutan amilum + saliva yang berubah hanya pada tabung 5, karena proses inkubasi yang pas yaitu pada suhu 37°C.
Larutan amilum + saliva yang berubah hanya pada tabung 5, karena proses inkubasi yang pas yaitu pada suhu 37°C.
Hasil Pengamatan Enzim Amilase
• Cawan T-1
Singkong yang direbus dan di beri ragi, setelah di peram 2 hari dan di tetesi iodium warna yang terjadi yaitu coklat pekat,
• Cawan T-1
Singkong yang direbus dan di beri ragi, setelah di peram 2 hari dan di tetesi iodium warna yang terjadi yaitu coklat pekat,
• Cawan T-2
Iodium dapat larut, tetapi tidak sempurna.
Iodium dapat larut, tetapi tidak sempurna.
• Cawan T-3
Iodium tidak dapat larut,
Iodium tidak dapat larut,
BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa:
Dalam uji enzim amilase yang dilakukan pada singkong rebus. Iodium bekerja dengan baik pada suatu benda yang sudah difermatasikan dan iodium juga dapat meresap. Iodium tidak dapat bekerja pada suatu benda yang belum difermentasikan dan tidak meresap.
Semakin lama fermentasi benda tersebut, maka larutan iodium tersebut akan bekerja dengan sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar