Kamis, 27 Juni 2013

Pemeliharaan Ayam Broiler Dan Kambing

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR DASAR MANAGEMENT TERNAK
METODE PERAWATAN AYAM BROILER DAN DOMBA ATAU KAMBING









DOSEN PEMBIMBING :
Ir.Achmad Marzuki,MP
DISUSUN OLEH:
HENDRA WAHYULIANTO RAHMAN
PRODUKSI TERNAK (TNK)
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
POLITEKHNIK NEGERI JEMBER

PENDAHULUAN

Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil daging (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai kelebihannya, antara lain hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yang dipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih dan cepat tumbuh (Rasyaf, 2008). Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan, kelebihannya adalah dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi, efisiensi terhadap pakan cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadi daging dan pertambahan bobot badan sangat cepat sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif lebih peka terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi (Murtidjo, 1987). Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Ayam broiler adalah salah satu klasifikasi sebagai ayam pedaging atau ayam yang arah kemampuan utamanya menghasilkan daging. Anatomi ayam hampir sama pada semua strain. Perbedaan secara anatomi biasanya hanya ukuran tubuh.Ayam broiler yang masih kecil yang baru dibeli sangat di identik dengan pengawasan dan ketelitian.Pada ayam broiler yang baru datang sangat membutuhkan perlakuan yang baik dan pemanasan.
Periode pemanasan ( broading periode ) atau disebut juga dengan period starter. Pada prinsipnya, pemeliharaan ayam broiler breeder dan komersial pada periode pemanasan dimulai sejak DOC diterima.Sampai umur 3-4 minggu periode pemanasan sangat penting karena pada periode ini terjadi perkembangan fisiologi yang menentukan fisiologi yang menentukan keberhasilan usaha pemeliharaan ayam, yaitu periode pembentukkan sistem kekebalan tubuh, sistim kardiovaskuler, pembentukan tubuh, dan awal pembentukan kerangka putih.
Ayam broiler sangat dominan diternakkan di indonesia karena selain pertumbuhannya yang sangat cepat. Bobot badannya yang semakin hari semakin bertambah dan juga dapat menghasilkan keuntungan apabila diternakkan dalam jumlah yag banyak.Ayam broiler sangat mudah sekali mengalami stress. Oleh sebab itu diperlukan pemeliharaan yang baik dan efesien, karena stress dapat menyebabkan pertumbuhannya terhambat dan dapat menyebaban kematian.Kandang ayam broiler ini dibuat dengan perlakuan yang dilaksanakan dengan memakai liret/serbuk kayu.

B.   Tujuan
Mahasiswa  dapat mengetahui manajemen atau cara-cara pengelolaan ayam broiler pada pemeliharaan ayam broiler dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan manajemen ayam broiler danmengajar peserta praktikum bagaimana cara pemeliharaan ayam broiler yang baik dan bagaimana cara pemberian pakan, minum, obat-obatan dan vaksinasi.

C.   Manfaat
Adalah menambah wawasan dan pengetahuan tentang standar kebutuhan ransum dan kualitas ransum untuk ayam broiler denganmembandingkan antara teori dengan kenyataan yang ada di dalam usaha peternakan serta  peserta praktikum tahu cara-cara yang baik untuk pemeliharaan ayam broiler dan tahu perbedaan ayam broiler yang mana dapat tumbuh Cepat, dan mahasiswa nantinya mampu menerapkan ilmu bagaimana cara membudidayakan ayam broiler secara baik dan benar di dalam kehidupan yang nyata.


BAB 1

Perawatan ayam broiler




v  PROSES PEMBERSIHAN KANDANG
Ayam seluruhnya telah meninggalkan kandang, begitu juga seharusnya sisa-sisa pemeliharaan ayam tersebut.Oleh karena itu kita perlu melakukan beberapa manajemen pembersihan dan desinfeksi kandang agar kandang sebisa mungkin kembali pada kondisi semula, baik dari struktur (kondisi fisik) maupun fungsinya.
Kotoran ayam menumpuk di setiap sudut kandang, bulu-bulu ayam juga merata di seluruh bagian kandang.Tak ketinggalan juga debu banyak berterbangan di dalam dan sekitar kandang.Kondisi ini tentu menjadi media yang baik sebagai tempat persembunyian dan perkembangan bibit penyakit.
Perlu menjadi pemahaman kita bersama, saat kondisi kandang dan lingkungannya kotor, bibit penyakit akan bertahan lebih lama. Terlebih lagi ada bahan organik, seperti feses yang bisa menjadi media bibit penyakit untuk tetap hidup.
Bibit penyakit memiliki kemampuan bertahan dalam jangka waktu yang bermacam-macam (tabel 1). Hal ini perlu kita perhatikan agar saat proses pembersihan dan pendesinfeksian kandang kita lakukan dengan sepenuhnya.
Tabel 1. Daya Tahan Bibit Penyakit di Luar Tubuh Ayam

Ø  Perlakuan Kandang Kotor
Fokus keberhasilan manajemen pembersihan dan desinfeksi kandang ini ialah jumlah bibit penyakit yang berada di dalam kandang dapat dikurangi atau diminimalkan.Kenapa bukan dihilangkan (sterilisasi)? Sterilisasi bukan istilah yang tepat digunakan untuk aktivitas tersebut, mengingat kondisi kandang yang tidak bisa terkendali secara penuh, misalnya saja aliran udara yang tidak bisa dikendalikan akan mengakibatkan bibit penyakit selalu ada di dalam kandang. Oleh karena itu, istilah yang digunakan dalam manajemen pembersihan kandang ialah sanitasi dan desinfeksi.

Tahapan penanganan kandang kotor antara lain :
1.       Keluarkan dan bersihkan sisa kotoran (feses dan sisa litter)
Sisa kotoran ayam, baik berupa feses, sisa litter, bulu maupun debu hendaknya dikeluarkan dari kandang dengan cara disapu. Setelah itu, lakukan penyemprotan air bertekanan dengan memakai jetspray.Pastikan semua bagian kandang tersemprot oleh jetspray.
Penggunaan jetspray ini akan memudahkan kita untuk menghilangkan sisa feses yang berada di sela-sela dinding atau lantai secara optimal. Selain itu, pemakaian jetspray ini akan mempercepat proses pembersihan kandang dengan hasil yang lebih optimal.Seringkali yang menjadi permasalahan ialah masih adanya sisa feses yang berada di bagian ini. Jika tidak dihilangkan maka bisa dipastikan siklus bibit penyakit akan selalu berlangsung dan bibit penyakit selalu berada di dalam kandang. Adanya sisa feses ini menjadi tempat persembunyian bibit penyakit dan daya kerja desinfektan membasmi bibit penyakit yang berada di sisa feses ini menjadi tidak optimal.
Membersihkan lantai dengan cara menggosok menggunakan sabun juga perlu dilakukan. Feses ayam memiliki lapisan lemak atau minyak sehingga saat menempel di lantai kandang sulit dihilangkan jika hanya menggunakan air.Oleh karena itu diperlukan pemakaian sabun yang mampu melarutkan minyak tersebut. Pembersihan dengan sabun ini juga sekaligus sebagai cara untuk menghilangkan kotoran yang masih tersisa dari penyemprotan dengan menggunakan jetspray.Setelah penyabunan, kandang hendaknya disemprot dengan air lagi kemudian dikeringkan. Sabun yang masih tersisa dapat menurunkan potensi beberapa jenis desinfektan, terutama yang mengandung zat aktif dari golongan ammonium quartener (Medisep atau Mediklin).

2.       Penyemprotan desinfektan
Penyemprotan desinfektan (desinfeksi, red) bertujuan membasmi bibit penyakit yang masih tersisa di dalam kandang, baik di lantai maupun udara kandang.Penyemprotan desinfektan yang pertama sebaiknya dilakukan dengan optimal, dimana seluruh bagian kandang harus basah atau terkena cairan desinfektan. Perlu diketahui, desinfektan hanya akan bekerja jika kontak dengan bibit penyakit. Oleh karena itu, penyemprotan desinfektan yang pertama kali sebaiknya menggunakanjetspray.Dengan demikian cairan desinfektan dapat masuk ke pori-pori dinding atau lantai kandang.

Desinfektan yang bisa digunakan antara lain FormadesSporadesMediklinMedisepAntisep atau Neo Antisep.
Ø  Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat penggunaan desinfektan :
1.       Jenis bibit penyakit
Tidak semua bibit penyakit dapat dibasmi oleh desinfektan, oleh karenanya pemilihan desin-fektan harus dilakukan secara tepat. Contohnya ialah virus yang tidak memiliki amplop (non enveloped), seperti virus Gumboro, Egg drop syndrome (EDS) dan reovirus tidak dapat dibasmi oleh desinfektan dari golongan ammonium chloride (quats) seperti Medisep atau Mediklin. Hal ini dikarenakan mekanisme kerja dari desinfektan golongan quats ialah merusak dinding sel sehingga mengurangi permeabilitas dinding sel dan akhirnya bibit penyakit mati.Virus yang tidak memiliki amplop tidak memiliki dinding sel sehingga desinfektan golongan quats tidak bisa membasminya.
2.        Materi organic
Materi organik, seperti sisa feses dan lendir juga dapat menurunkan kerja desinfektan. Materi organik ini akan menghalangi kontak antar desinfektan dan bibit penyakit. Akibatnya daya kerja desinfektan cenderung menurun, terlebih lagi desinfektan dari golongan klorin, iodine (AntisepNeo Antisep) dan quats (MedisepMediklin).Disinilah pentingnya melakukan pembersihan kandang dengan menghilangkan semua bahan organik yang ada.
3.        Ph
Potent of hydrogen atau tingkat keasaman air yang digunakan untuk melarutkan desinfektan juga berpengaruh terhadap daya kerja desinfektan. Desinfektan golongan iodine dan kaporit akan bekerja optimal di suasana asam-netral (pH 4-7) dan golongan quats dan glutaraldehyde akan berfungsi optimal saat dilarutkan dalam air dengan pH basa - netral. Melihat karakteristik itu, maka alangkah baiknya jika kita menggunakan air dengan pH netral untuk melarutkan desinfektan sehingga semua jenis desinfektan dapat bekerja dengan optimal.


4.        Tingkat kesadahan
Tingkat kesadahan ditentukan dari kandungan ion Ca2+, Mg2+ atau Fe3+ dalam air tersebut.Semakin tinggi kandungan ion-ion itu, semakin tinggi juga tingkat kesadahan air. Sama halnya pada obat, pelarutan desinfektan dalam air dengan tingkat kesadahan yang tinggi akan mengakibatkan penurunan potensi desinfektan, utamanya desinfektan dari golongan quats dan iodine. Saat dilarutkan dalam air sadah, desinfektan itu akan diikat oleh ion-ion tersebut, akibatnya daya kerjanya menurun.
Ø  Kandang Diistirahatkan
Setelah kandang dibersihkan dan didesinfeksi seluruhnya, tiba saatnya kandang diistirahatkan untuk beberapa waktu.Secara umum, masa istirahat kandang hendaknya tidak kurang dari 14 hari.Bahkan saat terjadi kasus, misalnya serangan Gumboro maka masa istirahat kandang diperpanjang.Tujuannya agar bibit penyakit yang berada di kandang bisa dikurangi secara optimal.
Saat istirahat kandang sebaiknya tidak ada aktivitas di dalam dan sekitar kandang atau minimal aktivitas pekerja keluar masuk dibatasi.Pintu dan tirai kandang ditutup.Hanya saja kita sering lupa meski kandang dalam masa istirahat namun lalu lintas kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan kurang terkontrol.Anggapannya di kandang sedang tidak ada ayam, makanya mobil yang keluar masuk tidak dibatasi dan didesinfeksi.
Sebuah dilematis tentunya, selama istirahat kandang ini, peternak atau pekerja kandang untuk sementara waktu menganggur dan tidak memperoleh pendapatan.Oleh karenanya ada beberapa peternak yang mempersingkat masa istirahat kandang dengan dalih ingin mengejar produksi. Perlu kita ingat, masa istirahat kandang yang lebih singkat ini akan membawa konsekuensi bibit penyakit belum sepenuhnya berkurang. Dengan demikian, saat manajemen pemeliharaan harus dilakukan dengan lebih ketat, terutama proses biosecurity atau penyemprotan kandang.

Ø  Inspeksi Kesiapan Kandang
Inspeksi kesiapan kandang dirasa perlu dilakukan untuk memastikan kondisi kandang benar-benar siap menerima kedatangan ayam.Inspeksi ini biasanya dilakukan 1 minggu sebelum chicks in. Aspek kesiapan yang perlu diinspeksi diantaranya :
Kebersihan kandang
Kebersihan menjadi aspek yang pertama kali perlu diamati saat melakukan inspeksi kesiapan kandang.Jika kandang masih kotor, misalnya masih terdapat sisa feses atau litter yang menempel pada lantai kandang dengan sebaran yang cukup banyak maka hendaknya dilakukan pembersihan dan desinfeksi ulang. Bahkan di salah satu farm di Jakarta Timur jika ditemukan hal itu diputuskan untuk mengundur jadwal chick in pada kandang itu.Adanya sisa feses di lantai kandang bisa menjadi sumber penyakit untuk ayam yang akan dipelihara
Keadaan kandang
Inspeksi keadaan kandang ini lebih diarahkan pada struktur kandang.Apakah masih ada atap yang bocor, lantai yang jebol atau dinding yang rusak?Kekokohan kandang juga harus kita perhatikan.Selain itu, tanah yang berada di bawah lantai kandang panggung juga perlu diperik-sa apakah masih ada sisa feses.
Kesiapan peralatan
Peralatan kandang seperti tempat ransum, tempat minum, tirai maupun pemanas juga harus diinspeksi baik kebersihan maupun fungsinya.Jumlah tempat minum dan ransum juga harus diperhatikan.Selain itu, bahan litter sebaiknya telah disiapkan di dalam kandang.



1.       KHUSUS UNTUK HARI PERTAMA

Kutuk/DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
                Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama).berikut ini adalah aturan pemberian pakan,faksin dan lain lain

Ø  MINGGU PERTAMA (hari ke 1-7)
HARI
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
JENIS PAKAN
Gram/ekor
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
JENIS FAKSIN
1
32-34
Jenis pakan untuk starter 13gram/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi.

2
32-34
Jenis pakan untuk starter 13gram/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

3
32-34
Jenis pakan untuk starter 13gram/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

4
32-34
Jenis pakan untuk starter 13gram/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1
5
32-34
Jenis pakan untuk starter 13 gram/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

6
32-34
Jenis pakan untuk starter 13gram/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

7
32-34
Jenis pakan untuk starter 13gram/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari



Ø  MINGGU KE DUA(hari ke 8-14)


HARI
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
JENIS PAKAN
Gram/ekor
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
JENIS FAKSIN
8
27-29
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

9
27-29
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

10
27-29
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

11
27-29
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

12
27-29
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

13
27-29
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari

14
27-29
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari




Ø  MINGGU KE TIGA (hari 15-21

HARI
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
JENIS PAKAN
Gram/ekor
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
JENIS FAKSIN
15
25-26
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

16
25-26
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

17
25-26
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

18
25-26
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

19
25-26
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

20
25-26
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

21
25-26
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
Jika waktu pemfaksikan sebaiknya jangan dilakukan pemberian minum.agar aya minum air yang mengandung faksin sebanyak-banyaknya
dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.


Ø  MINGGU KE EMPAT (hari ke 22-28)


HARI
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
JENIS PAKAN
Gram/ekor
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
JENIS FAKSIN
22
23-24
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

23
23-24
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

24
23-24
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

25
23-24
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

26
23-24
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

27
23-24
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

28
23-24
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari



Ø  MINGGU KE LIMA(hari ke 29-35)

HARI
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
JENIS PAKAN
Gram/ekor
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
JENIS FAKSIN
29
21-23
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

30
21-23
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

31
21-23
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

32
21-23
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

33
21-23
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

34
21-23
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

35
21-23
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari


Ø  MINGGU KE ENAM(hari ke 36-42 )
HARI
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
JENIS PAKAN
Gram/ekor
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
JENIS FAKSIN
36
20-23
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

37
20-23
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

38
20-23
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

39
20-23
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

40
20-23
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

41
20-23
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari

42
20-23
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari


Ø  HARI PEMANENAN
Pada hari ke 43 ayam sudah siap dipanen dan memasokkan kepasar pasar
.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.








PERAWATAN DOMBA GARUT

1.       Anak domba yang menyusu pada induknya
Sebuah Kelahiran adalah merupakan berkah bagi peternak, selain menambah jumlah ternak kita juga berarti telah sukses melakukan pembibitan dalam sebuah peternakan, untuk itu  agar hasil yang kita dapatkan ini dapat berkembang dengan baik dan tidak terbuang sia sia maka alangkah baiknya kita mengetahui secara pasti dan baik bagaimana cara merawat ternak yang baru lahir, adapun beberapa tahapan yang baik untuk merawat Bayi Domba adalah :

a.       Anak Domba pada 1-2 minggu pertama Pastikan mendapatkan Kolostrum ( Cairan Berwarna.kuning yang keluar dari induk domba ) dari  Induk Ternak yang akan keluar pada minggu pertama Kelahiran hal ini sangat berguna untuk daya tahan tubuh ternak dan kelanjutan pertumbuhan ternak , sementara di minggu kedua ternak akan meminum susu biasa dari indukan
b.      Anak Domba setelah melalui minggu kedua, biasanya akan mulai mencoba mengikuti indukuntuk memakan rumput yang dimakan indukan , peternak sudah harus  mulai memberikan rumput muda
c.       Dan lebih dari tiga minggu sampai dengan masa lepas sapih (3 Bulan ) programkan  juga anak atau calon bakalan untuk mulai mendapatkan ampas tahu/konsentrat yang bertambah proporsional sesuai dengan kapasitas tubuhnya
§  Hal hal yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam merawat anakan yang baru lahir
·         Anak yang tidak bisa menyusu pada induknya pada 12 jam pertama karena induknya tidak mengeluarkan susu
·         Mengeluarkan susu namun tidak mau menyusui
·         Anak Lebih dari 2 ( 3 atau Empat  )


§  Maka peternak wajib memberikan bantuan dengan susu bantuan buatan pertama ( menyerupai kolostrum ) yaitu campurkan sbb :
·         0,25 – 0.5 liter susu sapi atau pun susu bubuk
·          Setengah sendok gula makan
·          1 butir telur ayam
·         1 sendok the minyak ikan
·         Berikan berkala 3-4 kali sehari
·         Apabila dalam 2 hari ternak tidak mengeluarkan feses atau kotoran maka berikan 1 sendok the minyak jarak

2.        Anak yang tidak bisa menyusu pada induknya lebih dari 12 jam sampai dengan 3 bulan karena beberapa hal yang sama diatas ( no 1 )maka peternak harus memberikan susu buatan makanan rutin ternak sbb :
·         3 sendok makan susu bubuk + air secukupnya ( 1 gelas/1 tempat dot anak )
·          ¼ Sendok makan mentega
·         ½ Sendok makan Gula Pasir
·         Aduk dan berikan ke ternak berkala

3.       Anak yang tidak dirawat ibunya karena sifat indukan yang jelek beberapa sifat indukan yang jelek seperti
·         Menendang anak yang akan menyusui
·          Menginjak anak anak yang baru lahir
·         Tidak keluar susu

4.       Untuk menghadapi  indukan seperti beberap hal diatas, ada beberapa cara yang bisa di lakukan antara lain
·         Jika  masalah a + c terjadi, maka peternak harus memisahkan anak domba dari induk untuk mengurangi resiko terinjak dan memberikan susu buatan
·          Jika Masalah B terjadi sementaa induk mengeluarkan susu , maka peternak dapat membuat  kurungan ternak atau memisahkan ternak sementara dari indukan dan mengembalikan pada saat waktu minum susu

5.       Perawatan Domba Garut
Perawatan Domba Garut adalah kegiatan rutin yang dilakukan untuk menjaga kondisi ternak itu sendiri. Dimulai dari pencukuran bulu, pemotongan kuku, memandikan, pencatatan (recording)/identifikasi, pemberian vitamin dan pengobatan, serta monitoring ternak kemitraan.

a.       Pencukuran bulu
Pencukuran bulu bertujuan untuk mencegah domba garut terkena ektoparasit, seperti kutu penghisap darah yang bersarang pada bulu dan untuk mencegah penyakit kulit.Pencukuran bulu dilakukan setelah bulu domba terlihat panjang atau 2bulan sekali, dengan menggunakan alat cukur elektrik dan menggunakan gunting untuk daerah yang sulit di jangkau oleh alat cukur elektrik. Bulu domba tidak di cukur habis sampai ke kulit yang akan menyebabkan luka, di sisakan kurang lebih 0,5 cm.

b.      Pemotongan kuku.
Pemotongan kuku pada domba garut dilakukan setelah kuku domba terlihat panjang atau sekitar 2bulan sekali berssmaan pada saat pencukuran bulu, dilakukan dengan menggunakan gunting khusus untuk memotong kuku domba. Bila kuku domba tidak dipotong maka akan banyak menumpuk kotoran yang mengakibatkan infeks. Kuku yang panjang tersebut akan mengganggu domba pada saat berdiri.

c.       Memandikan domba.
Memandikan domba adalah suatu upaya untuk menjaga kesehatan ternak agar ternak tetap bersih dan tidak mudah terjangkit penyakit, memandikan domba dilakukan setiap dua minggu sekali pada saat pagi hari bila cuaca cerah.Setelah dimandikan, domba tersebut harus di jemur.

d.      Pencatatan.
Pancatatan (recording)/identifikasi dilakukan untuk mengetahui adanya mutasi populasi ternak, pertambahan bobot badan, kelahiran dan untuk seleksi calon bibit. Identifikasi yang dilakukan dengan cara pemberian identitas antara lain menggunakan kalung dan pengukuran panjang badan, tinggi lingkar dada serta umur ternak.



e.      Pemberian vitamin dan pengobatan.
Pemberian vitamin dan pengobatan, dilakukan untuk menjaga daya tahan tubuh ternak terhadap perubahan cuaca dan serangan penyakit, serta meningkatkan nafsu makan pada ternak.Pemberian vitamin ini dilakukan setiap tiga bulan sekali.Dosis pemberian vitamin untuk domba dewasa yaitu 1ml/ekor. Vitamin yang diberikan untuk domba dewasa yaitu B


























KESIMPULAN
Domba yang dipotong pertumbuhannya akan lebih baik, dari pada domba yang tidak dipotong kukunya, karena kuku yang panjang akan mengganggu cara berdiri domba sehingga pertumbuhan dombanya pun kurang baik. Selain itu domba yang dipotong kukunya akan terlihat lebih baik.

Pada percobaan pemeliharaan ayam broiler ini dapat kami simpulkan bahwa vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar