LAPORAN
PRAKTIKUM
DASAR DASAR
MANAGEMENT TERNAK
METODE
PERAWATAN AYAM BROILER DAN DOMBA ATAU KAMBING
DOSEN
PEMBIMBING :
Ir.Achmad
Marzuki,MP
DISUSUN
OLEH:
HENDRA
WAHYULIANTO RAHMAN
PRODUKSI
TERNAK (TNK)
DINAS
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
POLITEKHNIK
NEGERI JEMBER
PENDAHULUAN
Ayam broiler
adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu dengan
tujuan sebagi penghasil daging (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Ayam
broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai kelebihannya, antara lain
hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yang dipelihara adalah ayam broiler
yakni ayam yang berwarna putih dan cepat tumbuh (Rasyaf, 2008). Ayam broiler
memiliki kelebihan dan kelemahan, kelebihannya adalah dagingnya empuk, ukuran
badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi, efisiensi terhadap pakan
cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadi daging dan pertambahan
bobot badan sangat cepat sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemeliharaan
secara intensif dan cermat, relatif lebih peka terhadap suatu infeksi penyakit
dan sulit beradaptasi (Murtidjo, 1987). Pertumbuhan yang paling cepat terjadi
sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan dan terhenti
sampai mencapai dewasa (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Ayam broiler
adalah salah satu klasifikasi sebagai ayam pedaging atau ayam yang arah
kemampuan utamanya menghasilkan daging. Anatomi ayam hampir sama pada semua
strain. Perbedaan secara anatomi biasanya hanya ukuran tubuh.Ayam broiler yang
masih kecil yang baru dibeli sangat di identik dengan pengawasan dan
ketelitian.Pada ayam broiler yang baru datang sangat membutuhkan perlakuan yang
baik dan pemanasan.
Periode pemanasan ( broading periode )
atau disebut juga dengan period starter. Pada prinsipnya, pemeliharaan ayam
broiler breeder dan komersial pada periode pemanasan dimulai sejak DOC
diterima.Sampai umur 3-4 minggu periode pemanasan sangat penting karena pada
periode ini terjadi perkembangan fisiologi yang menentukan fisiologi yang
menentukan keberhasilan usaha pemeliharaan ayam, yaitu periode pembentukkan
sistem kekebalan tubuh, sistim kardiovaskuler, pembentukan tubuh, dan awal
pembentukan kerangka putih.
Ayam broiler
sangat dominan diternakkan di indonesia karena selain pertumbuhannya yang
sangat cepat. Bobot badannya yang semakin hari semakin bertambah dan juga dapat
menghasilkan keuntungan apabila diternakkan dalam jumlah yag banyak.Ayam
broiler sangat mudah sekali mengalami stress. Oleh sebab itu diperlukan
pemeliharaan yang baik dan efesien, karena stress dapat menyebabkan
pertumbuhannya terhambat dan dapat menyebaban kematian.Kandang ayam broiler ini
dibuat dengan perlakuan yang dilaksanakan dengan memakai liret/serbuk kayu.
B. Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui
manajemen atau cara-cara pengelolaan ayam broiler pada pemeliharaan ayam
broiler dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan manajemen ayam broiler
danmengajar peserta praktikum bagaimana cara pemeliharaan ayam broiler yang
baik dan bagaimana cara pemberian pakan, minum, obat-obatan dan vaksinasi.
C. Manfaat
Adalah menambah wawasan dan pengetahuan
tentang standar kebutuhan ransum dan kualitas ransum untuk ayam broiler
denganmembandingkan antara teori dengan kenyataan yang ada di dalam usaha
peternakan serta peserta praktikum tahu cara-cara yang baik untuk
pemeliharaan ayam broiler dan tahu perbedaan ayam broiler yang mana dapat
tumbuh Cepat, dan mahasiswa nantinya mampu menerapkan ilmu bagaimana cara
membudidayakan ayam broiler secara baik dan benar di dalam kehidupan yang
nyata.
BAB 1
Perawatan ayam broiler
|
|
|
|
|
v
PROSES PEMBERSIHAN KANDANG
Ayam seluruhnya telah meninggalkan kandang,
begitu juga seharusnya sisa-sisa pemeliharaan ayam tersebut.Oleh karena itu
kita perlu melakukan beberapa manajemen pembersihan dan desinfeksi kandang agar
kandang sebisa mungkin kembali pada kondisi semula, baik dari struktur (kondisi
fisik) maupun fungsinya.
Kotoran ayam menumpuk di setiap sudut
kandang, bulu-bulu ayam juga merata di seluruh bagian kandang.Tak ketinggalan
juga debu banyak berterbangan di dalam dan sekitar kandang.Kondisi ini tentu
menjadi media yang baik sebagai tempat persembunyian dan perkembangan bibit
penyakit.
Perlu
menjadi pemahaman kita bersama, saat kondisi kandang dan lingkungannya kotor,
bibit penyakit akan bertahan lebih lama. Terlebih lagi ada bahan organik,
seperti feses yang bisa menjadi media bibit penyakit untuk tetap hidup.
Bibit penyakit memiliki kemampuan bertahan
dalam jangka waktu yang bermacam-macam (tabel 1). Hal ini perlu kita perhatikan
agar saat proses pembersihan dan pendesinfeksian kandang kita lakukan dengan
sepenuhnya.
Tabel
1. Daya Tahan Bibit Penyakit di Luar Tubuh Ayam
Ø Perlakuan Kandang Kotor
Fokus keberhasilan manajemen pembersihan dan
desinfeksi kandang ini ialah jumlah bibit penyakit yang berada di dalam kandang
dapat dikurangi atau diminimalkan.Kenapa bukan dihilangkan (sterilisasi)?
Sterilisasi bukan istilah yang tepat digunakan untuk aktivitas tersebut,
mengingat kondisi kandang yang tidak bisa terkendali secara penuh, misalnya
saja aliran udara yang tidak bisa dikendalikan akan mengakibatkan bibit
penyakit selalu ada di dalam kandang. Oleh karena itu, istilah yang digunakan
dalam manajemen pembersihan kandang ialah sanitasi dan desinfeksi.
Tahapan
penanganan kandang kotor antara lain :
1. Keluarkan dan bersihkan sisa
kotoran (feses dan sisa litter)
Sisa kotoran ayam, baik berupa
feses, sisa litter,
bulu maupun debu hendaknya dikeluarkan dari kandang dengan cara disapu. Setelah
itu, lakukan penyemprotan air bertekanan dengan memakai jetspray.Pastikan
semua bagian kandang tersemprot oleh jetspray.
Penggunaan jetspray ini
akan memudahkan kita untuk menghilangkan sisa feses yang berada di sela-sela
dinding atau lantai secara optimal. Selain itu, pemakaian jetspray ini
akan mempercepat proses pembersihan kandang dengan hasil yang lebih
optimal.Seringkali yang menjadi permasalahan ialah masih adanya sisa feses yang
berada di bagian ini. Jika tidak dihilangkan maka bisa dipastikan siklus bibit
penyakit akan selalu berlangsung dan bibit penyakit selalu berada di dalam
kandang. Adanya sisa feses ini menjadi tempat persembunyian bibit penyakit dan
daya kerja desinfektan membasmi bibit penyakit yang berada di sisa feses ini
menjadi tidak optimal.
Membersihkan lantai dengan cara
menggosok menggunakan sabun juga perlu dilakukan. Feses ayam memiliki lapisan
lemak atau minyak sehingga saat menempel di lantai kandang sulit dihilangkan
jika hanya menggunakan air.Oleh karena itu diperlukan pemakaian sabun yang
mampu melarutkan minyak tersebut. Pembersihan dengan sabun ini juga sekaligus
sebagai cara untuk menghilangkan kotoran yang masih tersisa dari penyemprotan
dengan menggunakan jetspray.Setelah
penyabunan, kandang hendaknya disemprot dengan air lagi kemudian dikeringkan.
Sabun yang masih tersisa dapat menurunkan potensi beberapa jenis desinfektan,
terutama yang mengandung zat aktif dari golongan ammonium quartener (Medisep atau Mediklin).
2. Penyemprotan desinfektan
Penyemprotan desinfektan (desinfeksi, red)
bertujuan membasmi bibit penyakit yang masih tersisa di dalam kandang, baik di
lantai maupun udara kandang.Penyemprotan desinfektan yang pertama sebaiknya
dilakukan dengan optimal, dimana seluruh bagian kandang harus basah atau
terkena cairan desinfektan. Perlu diketahui, desinfektan hanya akan bekerja
jika kontak dengan bibit penyakit. Oleh karena itu, penyemprotan desinfektan
yang pertama kali sebaiknya menggunakanjetspray.Dengan demikian cairan
desinfektan dapat masuk ke pori-pori dinding atau lantai kandang.
Desinfektan
yang bisa digunakan antara lain Formades, Sporades, Mediklin, Medisep, Antisep atau Neo
Antisep.
Ø Beberapa hal yang perlu
diperhatikan saat penggunaan desinfektan :
1. Jenis bibit penyakit
Tidak semua bibit penyakit dapat
dibasmi oleh desinfektan, oleh karenanya pemilihan desin-fektan harus dilakukan
secara tepat. Contohnya ialah virus yang tidak memiliki amplop (non
enveloped), seperti virus Gumboro, Egg drop syndrome (EDS)
dan reovirus tidak dapat dibasmi oleh desinfektan dari golongan ammonium
chloride (quats) seperti Medisep atau Mediklin.
Hal ini dikarenakan mekanisme kerja dari desinfektan golongan quats ialah
merusak dinding sel sehingga mengurangi permeabilitas dinding sel dan akhirnya
bibit penyakit mati.Virus yang tidak memiliki amplop tidak memiliki dinding sel
sehingga desinfektan golongan quats tidak bisa membasminya.
2. Materi organic
Materi organik, seperti sisa
feses dan lendir juga dapat menurunkan kerja desinfektan. Materi organik ini
akan menghalangi kontak antar desinfektan dan bibit penyakit. Akibatnya daya
kerja desinfektan cenderung menurun, terlebih lagi desinfektan dari golongan
klorin, iodine (Antisep, Neo Antisep) dan quats (Medisep, Mediklin).Disinilah
pentingnya melakukan pembersihan kandang dengan menghilangkan semua bahan
organik yang ada.
3. Ph
Potent of hydrogen atau tingkat keasaman air
yang digunakan untuk melarutkan desinfektan juga berpengaruh terhadap daya
kerja desinfektan. Desinfektan golongan iodine dan kaporit akan bekerja optimal
di suasana asam-netral (pH 4-7) dan golongan quats dan glutaraldehyde akan
berfungsi optimal saat dilarutkan dalam air dengan pH basa - netral. Melihat
karakteristik itu, maka alangkah baiknya jika kita menggunakan air dengan pH
netral untuk melarutkan desinfektan sehingga semua jenis desinfektan dapat
bekerja dengan optimal.
4. Tingkat kesadahan
Tingkat kesadahan ditentukan dari
kandungan ion Ca2+, Mg2+ atau Fe3+ dalam
air tersebut.Semakin tinggi kandungan ion-ion itu, semakin tinggi juga tingkat
kesadahan air. Sama halnya pada obat, pelarutan desinfektan dalam air dengan
tingkat kesadahan yang tinggi akan mengakibatkan penurunan potensi desinfektan,
utamanya desinfektan dari golongan quats dan iodine. Saat dilarutkan dalam air
sadah, desinfektan itu akan diikat oleh ion-ion tersebut, akibatnya daya
kerjanya menurun.
Ø
Kandang Diistirahatkan
Setelah kandang dibersihkan dan didesinfeksi
seluruhnya, tiba saatnya kandang diistirahatkan untuk beberapa waktu.Secara
umum, masa istirahat kandang hendaknya tidak kurang dari 14 hari.Bahkan saat
terjadi kasus, misalnya serangan Gumboro maka masa istirahat kandang
diperpanjang.Tujuannya agar bibit penyakit yang berada di kandang bisa
dikurangi secara optimal.
Saat
istirahat kandang sebaiknya tidak ada aktivitas di dalam dan sekitar kandang
atau minimal aktivitas pekerja keluar masuk dibatasi.Pintu dan tirai kandang
ditutup.Hanya saja kita sering lupa meski kandang dalam masa istirahat namun
lalu lintas kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan kurang terkontrol.Anggapannya
di kandang sedang tidak ada ayam, makanya mobil yang keluar masuk tidak
dibatasi dan didesinfeksi.
Sebuah dilematis tentunya, selama istirahat
kandang ini, peternak atau pekerja kandang untuk sementara waktu menganggur dan
tidak memperoleh pendapatan.Oleh karenanya ada beberapa peternak yang
mempersingkat masa istirahat kandang dengan dalih ingin mengejar produksi.
Perlu kita ingat, masa istirahat kandang yang lebih singkat ini akan membawa
konsekuensi bibit penyakit belum sepenuhnya berkurang. Dengan demikian, saat
manajemen pemeliharaan harus dilakukan dengan lebih ketat, terutama proses
biosecurity atau penyemprotan kandang.
Ø
Inspeksi Kesiapan Kandang
Inspeksi kesiapan kandang dirasa perlu
dilakukan untuk memastikan kondisi kandang benar-benar siap menerima kedatangan
ayam.Inspeksi ini biasanya dilakukan 1 minggu sebelum chicks in.
Aspek kesiapan yang perlu diinspeksi diantaranya :
Kebersihan
kandang
Kebersihan menjadi aspek yang pertama kali
perlu diamati saat melakukan inspeksi kesiapan kandang.Jika kandang masih
kotor, misalnya masih terdapat sisa feses atau litter yang
menempel pada lantai kandang dengan sebaran yang cukup banyak maka hendaknya
dilakukan pembersihan dan desinfeksi ulang. Bahkan di salah satu farm di
Jakarta Timur jika ditemukan hal itu diputuskan untuk mengundur jadwal chick
in pada kandang itu.Adanya sisa feses di lantai kandang bisa menjadi
sumber penyakit untuk ayam yang akan dipelihara
Keadaan
kandang
Inspeksi
keadaan kandang ini lebih diarahkan pada struktur kandang.Apakah masih ada atap
yang bocor, lantai yang jebol atau dinding yang rusak?Kekokohan kandang juga
harus kita perhatikan.Selain itu, tanah yang berada di bawah lantai kandang
panggung juga perlu diperik-sa apakah masih ada sisa feses.
Kesiapan
peralatan
Peralatan kandang seperti tempat ransum,
tempat minum, tirai maupun pemanas juga harus diinspeksi baik kebersihan maupun
fungsinya.Jumlah tempat minum dan ransum juga harus diperhatikan.Selain itu,
bahan litter sebaiknya telah disiapkan di dalam kandang.
1. KHUSUS UNTUK HARI PERTAMA
Kutuk/DOC
dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang
ditambah POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus
dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang
hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13
gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal,
pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal
pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama).berikut ini adalah aturan pemberian pakan,faksin dan lain lain
Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama).berikut ini adalah aturan pemberian pakan,faksin dan lain lain
Ø MINGGU PERTAMA (hari ke 1-7)
|
HARI
|
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
|
JENIS PAKAN
Gram/ekor
|
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
|
JENIS FAKSIN
|
|
1
|
32-34
|
Jenis pakan untuk starter
13gram/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula
untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi.
|
|
|
2
|
32-34
|
Jenis pakan untuk starter
13gram/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
3
|
32-34
|
Jenis pakan untuk starter
13gram/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
4
|
32-34
|
Jenis pakan untuk starter
13gram/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
dengan metode tetes mata, dengan vaksin
ND strain B1
|
|
5
|
32-34
|
Jenis pakan untuk starter 13
gram/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
6
|
32-34
|
Jenis pakan untuk starter
13gram/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
7
|
32-34
|
Jenis pakan untuk starter
13gram/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
Ø MINGGU KE DUA(hari ke 8-14)
|
HARI
|
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
|
JENIS PAKAN
Gram/ekor
|
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
|
JENIS FAKSIN
|
|
8
|
27-29
|
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
9
|
27-29
|
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
10
|
27-29
|
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
11
|
27-29
|
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
12
|
27-29
|
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
13
|
27-29
|
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
|
14
|
27-29
|
Jenis pakan untuk starter 33/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari
|
|
Ø MINGGU KE TIGA (hari 15-21
|
HARI
|
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
|
JENIS PAKAN
Gram/ekor
|
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
|
JENIS FAKSIN
|
|
15
|
25-26
|
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
16
|
25-26
|
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
17
|
25-26
|
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
18
|
25-26
|
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
19
|
25-26
|
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
20
|
25-26
|
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
21
|
25-26
|
Pakan Ternak untuk Finisher
48/ekor/hari
|
Jika waktu pemfaksikan sebaiknya
jangan dilakukan pemberian minum.agar aya minum air yang mengandung faksin
sebanyak-banyaknya
|
dengan vaksin ND Lasotta melalui
suntikan atau air minum.
|
Ø MINGGU KE EMPAT (hari ke 22-28)
|
HARI
|
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
|
JENIS PAKAN
Gram/ekor
|
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
|
JENIS FAKSIN
|
|
22
|
23-24
|
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
23
|
23-24
|
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
24
|
23-24
|
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
25
|
23-24
|
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
26
|
23-24
|
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
27
|
23-24
|
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
28
|
23-24
|
Pakan Ternak untuk Finisher
65/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
Ø MINGGU KE LIMA(hari ke 29-35)
|
HARI
|
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
|
JENIS PAKAN
Gram/ekor
|
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
|
JENIS FAKSIN
|
|
29
|
21-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
30
|
21-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
31
|
21-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
32
|
21-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
33
|
21-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
34
|
21-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
35
|
21-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
88/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
Ø MINGGU KE ENAM(hari ke 36-42 )
|
HARI
|
SUHU UDARA DALAM KANDANG (ᵒC)
|
JENIS PAKAN
Gram/ekor
|
JENIS AIR MINUM
Gram/liter
|
JENIS FAKSIN
|
|
36
|
20-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
37
|
20-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
38
|
20-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
39
|
20-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
40
|
20-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
41
|
20-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
|
42
|
20-23
|
Pakan Ternak untuk Finisher
95/ekor/hari
|
POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter
air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 1cc/liter air minum/hari
|
|
Ø HARI PEMANENAN
Pada hari ke
43 ayam sudah siap dipanen dan memasokkan kepasar pasar
.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
PERAWATAN DOMBA GARUT
1. Anak domba yang menyusu pada induknya
Sebuah Kelahiran adalah merupakan berkah bagi peternak, selain
menambah jumlah ternak kita juga berarti telah sukses melakukan pembibitan
dalam sebuah peternakan, untuk itu agar hasil yang kita dapatkan ini
dapat berkembang dengan baik dan tidak terbuang sia sia maka alangkah baiknya
kita mengetahui secara pasti dan baik bagaimana cara merawat ternak yang baru
lahir, adapun beberapa tahapan yang baik untuk merawat Bayi Domba adalah :
a. Anak Domba pada
1-2 minggu pertama Pastikan mendapatkan Kolostrum ( Cairan Berwarna.kuning yang
keluar dari induk domba ) dari Induk Ternak yang akan keluar pada minggu
pertama Kelahiran hal ini sangat berguna untuk daya tahan tubuh ternak dan
kelanjutan pertumbuhan ternak , sementara di minggu kedua ternak akan meminum
susu biasa dari indukan
b. Anak Domba setelah
melalui minggu kedua, biasanya akan mulai mencoba mengikuti indukuntuk memakan
rumput yang dimakan indukan , peternak sudah harus mulai memberikan
rumput muda
c. Dan lebih dari
tiga minggu sampai dengan masa lepas sapih (3 Bulan ) programkan juga
anak atau calon bakalan untuk mulai mendapatkan ampas tahu/konsentrat yang
bertambah proporsional sesuai dengan kapasitas tubuhnya
§ Hal hal yang perlu
mendapatkan perhatian serius dalam merawat anakan yang baru lahir
·
Anak yang tidak bisa menyusu pada induknya pada 12 jam
pertama karena induknya tidak mengeluarkan susu
·
Mengeluarkan susu namun tidak mau menyusui
·
Anak Lebih dari 2 ( 3 atau Empat )
§ Maka peternak
wajib memberikan bantuan dengan susu bantuan buatan pertama ( menyerupai
kolostrum ) yaitu campurkan sbb :
·
0,25 – 0.5 liter susu sapi atau pun susu bubuk
·
Setengah sendok gula
makan
·
1 butir telur ayam
·
1 sendok the minyak ikan
·
Berikan berkala 3-4 kali sehari
·
Apabila dalam 2 hari ternak tidak mengeluarkan feses atau
kotoran maka berikan 1 sendok the minyak jarak
2. Anak yang tidak bisa menyusu pada induknya
lebih dari 12 jam sampai dengan 3 bulan karena beberapa hal yang sama diatas (
no 1 )maka peternak harus memberikan susu buatan makanan rutin ternak sbb :
·
3 sendok makan susu bubuk + air secukupnya ( 1 gelas/1
tempat dot anak )
·
¼ Sendok makan
mentega
·
½ Sendok makan Gula Pasir
·
Aduk dan berikan ke ternak berkala
3. Anak yang tidak
dirawat ibunya karena sifat indukan yang jelek beberapa sifat indukan yang jelek seperti
·
Menendang anak yang akan menyusui
·
Menginjak anak anak
yang baru lahir
·
Tidak keluar susu
4. Untuk menghadapi
indukan seperti beberap hal diatas, ada beberapa cara yang bisa di
lakukan antara lain
·
Jika masalah a + c terjadi, maka peternak harus
memisahkan anak domba dari induk untuk mengurangi resiko terinjak dan
memberikan susu buatan
·
Jika Masalah B
terjadi sementaa induk mengeluarkan susu , maka peternak dapat membuat
kurungan ternak atau memisahkan ternak sementara dari indukan dan
mengembalikan pada saat waktu minum susu
5. Perawatan Domba Garut
Perawatan Domba Garut adalah kegiatan rutin yang dilakukan untuk menjaga kondisi ternak itu sendiri. Dimulai dari pencukuran bulu, pemotongan kuku, memandikan, pencatatan (recording)/identifikasi, pemberian vitamin dan pengobatan, serta monitoring ternak kemitraan.
Perawatan Domba Garut adalah kegiatan rutin yang dilakukan untuk menjaga kondisi ternak itu sendiri. Dimulai dari pencukuran bulu, pemotongan kuku, memandikan, pencatatan (recording)/identifikasi, pemberian vitamin dan pengobatan, serta monitoring ternak kemitraan.
a. Pencukuran bulu
Pencukuran bulu bertujuan untuk mencegah domba garut terkena
ektoparasit, seperti kutu penghisap darah yang bersarang pada bulu dan untuk
mencegah penyakit kulit.Pencukuran bulu dilakukan setelah bulu domba terlihat
panjang atau 2bulan sekali, dengan menggunakan alat cukur elektrik dan
menggunakan gunting untuk daerah yang sulit di jangkau oleh alat cukur
elektrik. Bulu domba tidak di cukur habis sampai ke kulit yang akan menyebabkan
luka, di sisakan kurang lebih 0,5 cm.
b. Pemotongan kuku.
Pemotongan kuku pada domba garut dilakukan setelah kuku domba
terlihat panjang atau sekitar 2bulan sekali berssmaan pada saat pencukuran
bulu, dilakukan dengan menggunakan gunting khusus untuk memotong kuku domba.
Bila kuku domba tidak dipotong maka akan banyak menumpuk kotoran yang
mengakibatkan infeks. Kuku yang panjang tersebut akan mengganggu domba pada
saat berdiri.
c. Memandikan domba.
Memandikan domba adalah suatu upaya untuk menjaga kesehatan ternak
agar ternak tetap bersih dan tidak mudah terjangkit penyakit, memandikan domba
dilakukan setiap dua minggu sekali pada saat pagi hari bila cuaca cerah.Setelah
dimandikan, domba tersebut harus di jemur.
d. Pencatatan.
Pancatatan (recording)/identifikasi dilakukan untuk mengetahui
adanya mutasi populasi ternak, pertambahan bobot badan, kelahiran dan untuk
seleksi calon bibit. Identifikasi yang dilakukan dengan cara pemberian
identitas antara lain menggunakan kalung dan pengukuran panjang badan, tinggi
lingkar dada serta umur ternak.
e. Pemberian vitamin dan pengobatan.
Pemberian vitamin dan pengobatan, dilakukan untuk menjaga daya tahan
tubuh ternak terhadap perubahan cuaca dan serangan penyakit, serta meningkatkan
nafsu makan pada ternak.Pemberian vitamin ini dilakukan setiap tiga bulan
sekali.Dosis pemberian vitamin untuk domba dewasa yaitu 1ml/ekor. Vitamin yang
diberikan untuk domba dewasa yaitu B
KESIMPULAN
Domba yang
dipotong pertumbuhannya akan lebih baik, dari pada domba yang tidak dipotong
kukunya, karena kuku yang panjang akan mengganggu cara berdiri domba sehingga
pertumbuhan dombanya pun kurang baik. Selain itu domba yang dipotong kukunya
akan terlihat lebih baik.
Pada
percobaan pemeliharaan ayam broiler ini dapat kami simpulkan bahwa vaksinasi adalah pemasukan bibit
penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar